Proyek menulis puisi bersama-sama! Sinopsis diberikan, dan kita harus membuat puisi sesuai dengan karakter yang kita dapatkan. ‘Sosok yang Hilang’ adalah karya kedua setelah ‘Cahaya dalam Gelap’. Proyek kali ini melibatkan 4 (empat) orang pujangga. SINOPSIS: Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga yang miskin. Mereka bisa bertahan hidup karena hasil panen atas sawah yang mereka garap sendiri. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ibu dan empat orang anak; dua orang lelaki dan dua orang perempuan. Tidak ada yang tahu siapa ayah mereka, dan di mana ayah mereka berada. Meskipun miskin, mereka berlima hidup berbahagia di pinggiran hutan yang bersahabat. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu hari, ibu mereka jatuh sakit. Sakitnya begitu parah sehingga bahkan dokter dari desa sebelah tidak mampu menyembuhkannya. Yomi, sebagai anak pertama merasa ketakutan. Dirinya tak akan mungkin bisa menyokong hidup adik-adiknya sendirian. Apalagi dia seorang perempuan. Dan perempuan di jaman itu tidak diterima baik oleh lingkungan pekerjaan. Bagi mereka, lelakilah yang seharusnya bekerja. Danis, anak kedua yang berjenis kelamin laki-laki juga tidak berdaya. Dirinya masih belum mencapai titik kedewasaan untuk dapat mulai bekerja. Dan lagi, sejauh ini kebanyakan ibu mereka yang merawat sawah keluarga. Mereka hanya membantu, bukan menggarap. Rheza, anak ketiga yang juga laki-laki, juga tidak bisa diharapkan. Dirinya mengidap penyakit kelainan otak yang membuatnya autis. Nadya, anak bungsu yang masih bayi dan satu-satunya perempuan di keluarga yang tidak pernah menyaksikan kelahiran lain di dalam hidupnya juga sama tidak berdayanya dengan ketiga saudaranya yang lain. Di tengah kebingungan tersebut, ibu mereka memberikan wejangan. Kata-kata terakhir yang mereka dapatkan dari bibir ibu mereka, sebelum beliau tutup usia. “Carilah ayah kalian,” Maka, dimulailah pencarian mereka. Yomi pergi dari desa ke desa, menanyakan keberadaan ayah mereka, atau bahkan identitas beliau. Danis pergi meraungi hutan dan lautan, menajamkan telinga untuk mendengar kabar akan ayah mereka. Rheza yang autis tidak mampu berbuat apapun, sehingga dirinya hanya terdiam, memeluk makam ibunya. Tak perduli betapa hujan dan badai datang menerpa, atau kelaparang datang melanda. Nadya, yang masih terlalu kecil untuk berbuat apa-apa akhirnya diadopsi oleh warga desa terdekat, dan diajarkan untuk lupa akan keluarga lamanya. —15 tahun kemudian— Yomi akhirnya kehabisan uang dan terpaksa untuk menikah dengan seorang pejabat yang memakan uang kotor hasil korupsi. Hidupnya berkecukupan, namun hatinya terus merindukan ketiga adik-adiknya, dan mempertanyakan keadaan ayahnya. Danis berhasil mengalahkan monster gunung utara dengan keberaniannya, namun dianggap terlalu berbahaya oleh Raja sehingga akhirnya dia harus mendekam di penjara. Dia selalu terdengar menangis dari waktu ke waktu, panggilan kepada “Ayah” terucap dari mulutnya. Rheza, tak memiliki siapapun untuk membantunya, akhirnya meninggal dunia. Menelan jiwanya yang autis, dan melebur di atas makam ibunya sendiri. Nadya, yang tidak memiliki ingatan apapun akan keluarga lamanya, hidup berbahagia. Namun entah mengapa, sesuatu di dalam hatinya terasa menghilang. Dia tidak tahu apa yang kurang, meskipun tetes air mata seringkali tertumpah demi mengingat hal yang dilupakannya tersebut. Mereka berempat merindukan sosok sang ibu. Mereka berempat merindukan keberadaan masing-masing. Mereka berempat tak berhasil menemukan sang ayah. Puisi Yomi/Anak Sulung | Salam Rindu | @Omidgreeny Keliru waktu menempatkan ku pada satu masa pahit Tanpa menanti pendapatku untuk tetap berjarak pada satu cinta Aku begitu lemah, ketika ku tahu semua semu Ya, aku merasa sendiri di antara ribuan massa Indah… itu dulu tak sempat berlabuh banyak waktu untuk ku merasakannya yang kini terganti dengan erangan jiwa pedihku dimanakah pelangi itu? Yang menghiaskan kesempurnaan keluargaku Bagaikan berjuta daging berserakan tidak berada pada satu tempat tak bertemu untuk merasakan sakit yang sama semua berlandas pada kesejukan kah? atau malah terpuruk yang membelenggu jiwa Aku, dalam dukaku tetap bersuara Merindukan kenangan klasik yang memerdekakan kebahagiaanku bukan seperti sekarang, kebahagiaan semu tapi mematikan kebahagiaan sementara, menyakitkan selamanya Aku mencintai ayahku Aku menyayangi ibuku Aku bersujud merindukan bulan yang bisa sama-sama kunikmati dalam kegirangan adik-adikku dalam kesederhanaan yang mewah ya, Aku merindukan keluargaku yang membuatku untuk selalu bersyukur akan keberadaan mereka di hidupku ——- Author’s Comment: Kesan : Hmm, waktu ngebaca sinopsisnya, ada tantangan tersendiri, karena harus cermat memikirkan karakter tokoh utnuk memposisikan tokoh sewaktu membuat puisi. Dan setelah puisi kelar, senangnya bukan main (padahal belum tahu bagus atau ga..haha), semoga sesuai dengan karakter yg diinginkan :) Pesan : Baca sinopsis berulang-ulang, pelajari posisi tokoh, cari musik pendukung utk menulis, kemudian tulislah puisimu :) ——- Puisi Danis/Anak Kedua | Dalam Dingin Aku Merindu Kehangatan | @danissyamra Gelap, pengap, bau dan dingin memeluk diriku Aku merindu udara yang bebas dan hangat Hangat? Sebuah rasa yang bertahun tak lagi ku alami Dalam gelap aku mendamba datangnya cahaya Dalam dingin aku merindu hangat Ibu? Andai ibu apa kabarmu di “sana” Apakah disana hangat dan menyenangkan? Aku memeluk erat pengapnya neraka Bukan penjara! Neraka itu adalah kesepian Ibu! Maaf aku tak berdaya Aku! lelaki tertua tak kuasa menjaga kakak dan adik-adikku Dan tak mampu temukan Ayah. Ibu! Aku merasa dingin ini menusuk Aku inginkan kehangatan Ibu! Aku merindu Aku merindu keluarga kita yang dulu. Author’s comment: ………..intinya saya sangat senang bisa ikut dalam proyek ini. ——- Puisi Rheza/Anak Ketiga | sebelum tidur | @gravelfrobisher sebelum tidur aku ingin melihatmu lagi ibu sebelum tidur aku ingin bertemu walau hanya sekali ayah sebelum tidur aku ingin tersenyum lagi kakak sebelum tidur aku ingin hapus pandangan menghina semua orang sebelum tidur aku ingin bersama menyantap hidangan di meja makan sebelum tidur aku ingin bicara bukan kepada dinding, bukan kepada piring sebelum tidur aku ingin sampaikan aku ingin teriak apa yang kulihat dari kalian bukan keringat atau wajah lelah saja tetapi juga senyum tawa dan canda satu saja yang bisa kudengarkan cerita dari ibu sebelum aku tidur tenang dan damai hatiku sebelum tidur aku ingin mendengar sebuah kisah sebelum tidur selamat tinggal ——- Author’s Comment: Saya bukan orang autis, jadi jelas membuat puisi ini merupakan tantangan yang sangat besar. Setelah research sedikit, akhirnya saya memutuskan untuk membuat puisi yang simpel: puisi tanpa huruf kapital, tanpa tanda baca, dan tanpa metafora. Saya juga berusaha ‘menyorot’ apa yang biasanya tidak signifikan di mata kita; misalnya ‘meja makan dan cerita pengantar tidur. Sulit? Pasti. Namun setidaknya saya senang :) semoga pembaca juga senang membacanya. ——- Puisi Nadya/Anak Bungsu | KOSONG | @nadyapermadi Kekosongan itu menyergap datang Berjalan bersisian Tetap kosong dan selalu kosong Beribu keindahan menutupi Hanya menutupi namun tidak mengisi Bagai kamuflase, tidak bermakna.. Namun ada sesuatu dibaliknya Satu sosok yang tersembunyi dan lenyap Lenyap bagai debu yang tertiup angin Mencoba mencari penangkalnya Penangkal kekosongan, sosok yang pergi dan menghilang Penangkal rindu yang entah sejak kapan mulai memenuhi jiwa Namun upaya itu tidak berarti, sia-sia.. Kekosongan itu tetap kosong dan akan selalu kosong Terjebak dalam kesendirian dan kesepian Dan rindu itu akan terus menetap hingga raga dan jiwa ini rusak Rusak oleh waktu dan kekosongan.. ——- Author’s Comment: Waktu bikin puisi untuk cerita ini awalnya agak bingung, soalnya mendadak banget trus juga inspirasi lagi ngadat, tapi akhirnya dengan berusaha memposisikan diri sebagai si karakter yang harus kehilangan ingatan dan kenangan-kenangannya (dan itu lumayan bikin menguras otak juga sih sejujurnya), well akhirnya jadi juga deh puisinya. Walaupun agak nggak yakin sih bisa bikin puas pujangga-pujangga dan pembaca diluar sana, but let’s hope for the best! :) ——- penulis puisi: Yomi: @Omidgreeny Danis: @danissyamra Rheza: @gravelfrobisher Nadya: @nadyapermadi skenario/sinopsis by: Rheza Aditya / @gravelfrobisher
-
omidgreeny reblogged this from collabpoem
-
omidgreeny likes this
-
collabpoem posted this