Theme made by IsMyWb <<>> © 2011–2014 Powered by Tumblr <<>> Install This Theme
Sosok yang Hilang

 Proyek menulis puisi bersama-sama! Sinopsis diberikan, dan kita harus membuat puisi sesuai dengan karakter yang kita dapatkan. ‘Sosok yang Hilang’ adalah karya kedua setelah ‘Cahaya dalam Gelap’. Proyek kali ini melibatkan 4 (empat) orang pujangga.


SINOPSIS:

Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga yang miskin.

Mereka bisa bertahan hidup karena hasil panen atas sawah yang mereka garap sendiri.

Keluarga tersebut terdiri dari seorang ibu dan empat orang anak; dua orang lelaki dan dua orang perempuan.

Tidak ada yang tahu siapa ayah mereka, dan di mana ayah mereka berada.

Meskipun miskin, mereka berlima hidup berbahagia di pinggiran hutan yang bersahabat.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Suatu hari, ibu mereka jatuh sakit.

Sakitnya begitu parah sehingga bahkan dokter dari desa sebelah tidak mampu menyembuhkannya.

Yomi, sebagai anak pertama merasa ketakutan. Dirinya tak akan mungkin bisa menyokong hidup adik-adiknya sendirian. Apalagi dia seorang perempuan. Dan perempuan di jaman itu tidak diterima baik oleh lingkungan pekerjaan. Bagi mereka, lelakilah yang seharusnya bekerja.

Danis, anak kedua yang berjenis kelamin laki-laki juga tidak berdaya. Dirinya masih belum mencapai titik kedewasaan untuk dapat mulai bekerja. Dan lagi, sejauh ini kebanyakan ibu mereka yang merawat sawah keluarga. Mereka hanya membantu, bukan menggarap.

Rheza, anak ketiga yang juga laki-laki, juga tidak bisa diharapkan. Dirinya mengidap penyakit kelainan otak yang membuatnya autis.

Nadya, anak bungsu yang masih bayi dan satu-satunya perempuan di keluarga yang tidak pernah menyaksikan kelahiran lain di dalam hidupnya juga sama tidak berdayanya dengan ketiga saudaranya yang lain.

Di tengah kebingungan tersebut, ibu mereka memberikan wejangan. Kata-kata terakhir yang mereka dapatkan dari bibir ibu mereka, sebelum beliau tutup usia.

 

"Carilah ayah kalian,"

 

Maka, dimulailah pencarian mereka.

Yomi pergi dari desa ke desa, menanyakan keberadaan ayah mereka, atau bahkan identitas beliau.

Danis pergi meraungi hutan dan lautan, menajamkan telinga untuk mendengar kabar akan ayah mereka.

Rheza yang autis tidak mampu berbuat apapun, sehingga dirinya hanya terdiam, memeluk makam ibunya. Tak perduli betapa hujan dan badai datang menerpa, atau kelaparang datang melanda.

Nadya, yang masih terlalu kecil untuk berbuat apa-apa akhirnya diadopsi oleh warga desa terdekat, dan diajarkan untuk lupa akan keluarga lamanya.

 

 

—15 tahun kemudian—

 

 

Yomi akhirnya kehabisan uang dan terpaksa untuk menikah dengan seorang pejabat yang memakan uang kotor hasil korupsi. Hidupnya berkecukupan, namun hatinya terus merindukan ketiga adik-adiknya, dan mempertanyakan keadaan ayahnya.

Danis berhasil mengalahkan monster gunung utara dengan keberaniannya, namun dianggap terlalu berbahaya oleh Raja sehingga akhirnya dia harus mendekam di penjara. Dia selalu terdengar menangis dari waktu ke waktu, panggilan kepada “Ayah” terucap dari mulutnya.

Rheza, tak memiliki siapapun untuk membantunya, akhirnya meninggal dunia. Menelan jiwanya yang autis, dan melebur di atas makam ibunya sendiri.

Nadya, yang tidak memiliki ingatan apapun akan keluarga lamanya, hidup berbahagia. Namun entah mengapa, sesuatu di dalam hatinya terasa menghilang. Dia tidak tahu apa yang kurang, meskipun tetes air mata seringkali tertumpah demi mengingat hal yang dilupakannya tersebut.

Mereka berempat merindukan sosok sang ibu.

Mereka berempat merindukan keberadaan masing-masing.

Mereka berempat tak berhasil menemukan sang ayah.

 

Puisi Yomi/Anak Sulung  | Salam Rindu  | @Omidgreeny

Keliru waktu menempatkan ku pada satu masa pahit

Tanpa menanti pendapatku untuk tetap berjarak pada satu cinta

Aku begitu lemah, ketika ku tahu semua semu

Ya, aku merasa sendiri di antara ribuan massa

 

Indah…  itu dulu

tak sempat berlabuh banyak waktu untuk ku merasakannya

yang kini terganti dengan erangan jiwa pedihku

dimanakah pelangi itu?

Yang menghiaskan kesempurnaan keluargaku

 

Bagaikan berjuta daging berserakan

tidak berada pada satu tempat

tak bertemu untuk merasakan sakit yang sama

semua berlandas pada kesejukan kah?

atau malah terpuruk yang membelenggu jiwa

 

Aku, dalam dukaku tetap bersuara

Merindukan kenangan klasik yang memerdekakan kebahagiaanku

bukan seperti sekarang,

kebahagiaan semu tapi mematikan

kebahagiaan sementara, menyakitkan selamanya

 

Aku mencintai ayahku

Aku menyayangi ibuku

Aku bersujud merindukan bulan yang bisa sama-sama kunikmati

dalam kegirangan adik-adikku

dalam kesederhanaan yang mewah

ya, Aku merindukan keluargaku

yang membuatku untuk selalu bersyukur akan keberadaan mereka di hidupku

 

——-

 

Author’s Comment: Kesan : Hmm, waktu ngebaca sinopsisnya, ada tantangan tersendiri, karena harus cermat memikirkan karakter tokoh utnuk memposisikan tokoh sewaktu membuat puisi. Dan setelah puisi kelar, senangnya bukan main (padahal belum tahu bagus atau ga..haha), semoga sesuai dengan karakter yg diinginkan :)

 

Pesan : Baca sinopsis berulang-ulang, pelajari posisi tokoh, cari musik pendukung utk menulis, kemudian tulislah puisimu :)

 ——-

 

Puisi Danis/Anak Kedua  |  Dalam Dingin Aku Merindu Kehangatan  | @danissyamra

 

Gelap, pengap, bau dan dingin memeluk diriku

 

Aku merindu udara yang bebas dan hangat

 

Hangat? Sebuah rasa yang bertahun tak lagi ku alami

 

Dalam gelap aku mendamba datangnya cahaya

 

Dalam dingin aku merindu hangat

 

Ibu? Andai ibu apa kabarmu di “sana”

 

Apakah disana hangat dan menyenangkan?

 

Aku memeluk erat pengapnya neraka

 

Bukan penjara! Neraka itu adalah kesepian

 

Ibu! Maaf aku tak berdaya

 

Aku! lelaki tertua tak kuasa menjaga kakak dan adik-adikku

 

Dan tak mampu temukan Ayah.

 

Ibu! Aku merasa dingin ini menusuk

 

Aku inginkan kehangatan

 

Ibu! Aku merindu

 

Aku merindu keluarga kita yang dulu.

 

Author’s comment: ………..intinya saya sangat senang bisa ikut dalam proyek ini.

 ——-

 

Puisi Rheza/Anak Ketiga  |  sebelum tidur  |  @gravelfrobisher

 

sebelum tidur

aku ingin melihatmu lagi

ibu

 

sebelum tidur

aku ingin bertemu walau hanya sekali

ayah

 

sebelum tidur

aku ingin tersenyum lagi

kakak

 

sebelum tidur

aku ingin hapus

pandangan menghina semua orang

 

sebelum tidur

aku ingin bersama

menyantap hidangan di meja makan

 

sebelum tidur

aku ingin bicara

bukan kepada dinding, bukan kepada piring

 

sebelum tidur

aku ingin sampaikan

aku ingin teriak

 

apa yang kulihat dari kalian

bukan keringat atau wajah lelah saja

tetapi juga senyum tawa dan canda

 

satu saja yang bisa kudengarkan

cerita dari ibu sebelum aku tidur

tenang dan damai hatiku

 

sebelum tidur

aku ingin mendengar

sebuah kisah sebelum tidur

 

selamat tinggal

 

 

——-

Author’s Comment: Saya bukan orang autis, jadi jelas membuat puisi ini merupakan tantangan yang sangat besar. Setelah research sedikit, akhirnya saya memutuskan untuk membuat puisi yang simpel: puisi tanpa huruf kapital, tanpa tanda baca, dan tanpa metafora. Saya juga berusaha ‘menyorot’ apa yang biasanya tidak signifikan di mata kita; misalnya ‘meja makan dan cerita pengantar tidur.

Sulit? Pasti. Namun setidaknya saya senang :) semoga pembaca juga senang membacanya.

 ——-

 

Puisi Nadya/Anak Bungsu  |  KOSONG  | @nadyapermadi

 

Kekosongan itu menyergap datang

Berjalan bersisian

Tetap kosong dan selalu kosong

Beribu keindahan menutupi

Hanya menutupi namun tidak mengisi

Bagai kamuflase, tidak bermakna..

Namun ada sesuatu dibaliknya

Satu sosok yang tersembunyi dan lenyap

Lenyap bagai debu yang tertiup angin

Mencoba mencari penangkalnya

Penangkal kekosongan, sosok yang pergi dan menghilang

Penangkal rindu yang entah sejak kapan mulai memenuhi jiwa

Namun upaya itu tidak berarti, sia-sia..

Kekosongan itu tetap kosong dan akan selalu kosong

Terjebak dalam kesendirian dan kesepian

Dan rindu itu akan terus menetap hingga raga dan jiwa ini rusak

Rusak oleh waktu dan kekosongan..

 

——-

Author’s Comment: Waktu bikin puisi untuk cerita ini awalnya agak bingung, soalnya mendadak banget trus juga inspirasi lagi ngadat, tapi akhirnya dengan berusaha memposisikan diri sebagai si karakter yang harus kehilangan ingatan dan kenangan-kenangannya  (dan itu  lumayan bikin menguras otak juga sih sejujurnya), well  akhirnya jadi juga deh puisinya. Walaupun agak nggak yakin sih bisa bikin puas pujangga-pujangga dan pembaca diluar sana,  but let’s hope for the best! :)

 ——-

 

 penulis puisi:

Yomi: @Omidgreeny

Danis: @danissyamra

Rheza: @gravelfrobisher

Nadya: @nadyapermadi

skenario/sinopsis by: Rheza Aditya / @gravelfrobisher


 

  1. omidgreeny reblogged this from collabpoem
  2. collabpoem posted this