Sinopsis:
Di sebuah kota besar, hiduplah sebuah keluarga. Mereka keluarga yang terpandang. Si ibu adalah seorang staf keuangan pemerintahan, sedangkan sang ayah merupakan pebisnis muda yang bisnisnya saat ini sedang meroket. Mereka berdua memiliki 2 orang anak. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Dilihat dari luar, mereka adalah keluarga yang sempurna. Bahkan sebuah keluarga idaman. Tapi ternyata itu hanya kulit luarnya saja. Kenyataannya isi rumah keluarga ini bagai neraka. Mereka semua gila akan uang. Sang istri yang merupakan staf keuangan, terlalu sibuk memanipulasi laporan keuangan untuk kepentingannya sendiri. Sang suami gila bekerja dan lupa akan tanggung jawabnya sebagai ayah, hanya untuk mengejar keuntungan materi. Anak mereka yang paling tua, seorang laki-laki yang terlalu gila akan gadged, sehingga terus memoroti uang dari ayahnya untuk membeli gadged terbaru yang harganya selangit. Sedangkan putri mereka satu-satunya, gila akan fashion dan clubbing, dia mampu menghabiskan uang lima juta rupiah dalam satu hari.
Keluarga ini bagai neraka, mereka seperti iblis yang rakus akan uang dan kesenangan duniawi. Sang istri akhirnya ketahuan telah mengkorupsi dana pemerintah sebanyak miliaran rupiah. Sang suami menjadi depresi karena bisnisnya hancur total. Anak laki-lakinya akhirnya menjadi pengedar narkoba untuk tetap dapat membeli gadget, namun tertangkap. Anak perempuan keluarga tersebut hidupnya harus nelangsa di tangan Om-Om hidung belang, agar tetap dapat membiayai gaya hidupnya yang glamour. Semua ini hanya karena uang. Ya! Uang.
Puisi Yomi/Sang Istri | Aku Tertawa Gagal | @Omidgreeny
Tawaku terpekik menggema
ketika ku bisa meraup semua kebahagiaan maya
duka terselip pura-pura ku abaikan
yang penting nurani ku bercinta
akan semua kenikmatan dahaga
ku hirup sampai tetes akhir
aku, bahagia!
jangan tanya itu
aku memang bahagia!
Semua bisa kudapatkan
bahkan yang tak terlihat sekalipun
massa memuja kepintaranku
dibalik selimut panas dosa dunia
Tapi aku sekarat
menghabiskan darah dari orang-orang yang memang kehausan darah
apakah aku jahanam?
membuat emosimu tertanam?
ku jawab, ya, aku luar biasa!
mempunyai hasrat tinggi
untuk menguasai dunia
dan aku sadar akan mati dibawah desakan jeruji
hitam, gelap, dan aku gagal
Author’s Comment: Kesan : Ini pengalaman yang jarang, aku menulis puisinya tentang cinta, kali ini memang tentang cinta sih, tapi cinta uang dan sewaktu aku menulisnya benar2 seperti iblis yang senang akan kekayaan haha *penjiwaan
Puisi Danis/Sang Ayah | Tuhan yang Sebenarnya | @danissyamra
Uang.. Uang..
Aku mendamba akan uang
Menyatu dalam jiwa dan hidup
Uang..
Bagiku itu adalah Tuhan yang sebenarnya
Tuhan yang tidak semu
Karena uang adalah segalanya
Uang..Uang dan Uang…
Itu adalah nyawa kedua untukku
Bagai oksigen yang membuatku tetap hidup
Uang adalah oksigen yang sebenarnya
Uang.. Uang dan Uang..
Tanpamu…
Aku terasa tak bernyawa..
Raga ini hidup tapi tak berjiwa…
Author’s Comment: Kesan : Terlalu pekat dan dalam. Saya harus terjebak dengan sinopsis yang saya buat sendiri. perlu sebuah “kegilaan” tersendiri untuk membuat puisi ini.
Puisi Rheza/Anak Laki-Laki | Satu..Dua..Tiga Lembar Uang | @gravelfrobisher
Dua..
Tiga lembar
Hidupku bagaikan lembaran
Hidupku bagaikan uang
Berharga kemarin,
sampah di hari ini
Satu…
Dua…
Tiga lembar
Tersenyumlah bayang-bayang
Satu, dua, tiga lembar
Kesenangan sesaat yang kuhisap
Kegembiraan semu yang kusesap
Satu…
Dua…
Tiga lembar
Hey manusia, janganlah munafik
Aku adalah manusia
Uang juga manusia
Aku adalah uang
Satu…
Dua…
Tiga lembar
Kau kata aku menyesal?
Kau kata aku menangis?
Tidak.
Aku tertawa
Satu…
Dua…
Tiga lembar
Penjara ini menjadi rumahku
Melindungiku dengan tembok
Menghalauku dari realita
Menyelamatkanku dari keserakahan
Satu…
Dua…
Tiga lembar
Enam buah ‘tiga’ lembar
Enam buah ‘tiga’ penyesalan
Enam buah ‘tiga’ penebusan
Enam buah ‘tiga’ uang
Satu…
Dua…
Tiga lembar
Aku adalah manusia
Manusia mencintai uang
Satu, dua, tiga lembar
Di dalam kungkungan ruang ini
Aku adalah manusia
Kau kata aku menyesa?
Tidak, aku tertawa.
Kau kata aku menangis?
Satu, dua, tiga lembar
Aku tertawa, tersenyum
Satu, dua, tiga lembar
Maukah kau bermain denganku?
Author’s Comment: Sebenarnya, puisi ini saya buat EKSPRES (pas hari deadline, persis
sebelum dipost. Menghabiskan waktu saya sekitar 15 menit.
Saya tidak sempat lagi mendalami karakternya, namun saya akui saya
bisa relate dengan sang anak laki2.
Saya berpikir, kalau saya menjadi anak itu, dipenjara harusnya
BUKANLAH ALASAN baginya untuk bertobat.
Maksud saya, ANAK ITU TELAH DIDIDIK MENJADI SERAKAH SELAMA SEKIAN
TAHUN, dan dia baru dipenjara selama sekian bulan.
Makanya, saya tidak membuat puisi penyesalan. Saya membuat puisi KEGILAAN.
Saya berusaha menggambarkan kegilaan sang anak terhadap uang, dan
ketidakperdulian dia terhadap penjara atau apapun itu.
DIA GILA. Dan saya rasa saya juga akan gila *lirik tumpukan tugas*
*pingsan* #curcol
Puisi Nadya/Anak Perempuan | Kontrak | @nadyapermadi
Aku menangis Tidak.. Aku merintih, menjerit… Mencoba menghentikan segalanya Mengubah tadkirku Lembaran itu membutakan.. Membuat kebas, tuli.. Tidak lagi dapat melihat nyata Tidak dapat merasakan keindahan Tidak, semuanya hilang.. Deretan angka itu menjerumuskan Mematikan seluruh rasa Lembaran itu hanya kertas, namun terlalu banyak Banyak hingga membuat tamak Tidak ingin lagi melihat mereka Namun hidupku, jiwaku, ragaku telah terikat.. Terikat oleh kontrak mati.. Akan dia.. Author’s Comment : Kaget awalnya pas baca sinopsis ceritanya. Agak ‘beda’ dari biasanya. Tapi tetep keren! Perannya disini umum sih, gadis remaja yg suka hura-hura dan akhirnya jadi yah seperti itu. Untungnya, inspirasi lagi lancar pas nulis puisi ini dan ‘voila!’ puisinya jadi. Semoga pujangga2 diluar sana suka dengan puisi ini :)
-
omidgreeny likes this
-
omidgreeny reblogged this from collabpoem
-
collabpoem posted this